Gerimis, hujan
Di balik jendela yang terbuka separuh, kumasih berdiri. Menanti Dewi rumpun padi menemukan jalan pulang. Berharap ia menyadari kekeliriuan pilihannya antara Gerimis dan Hujan.
Diantara dingin malam musim penghujan di penghujung oktober yang kian menusuk, ku terus menatap ke satu sudut, pertigaan jalan: tempat ketika lelaki hujan membawanya pergi. Meninggalkan Gerimis yang rintiknya terampas.
Gerimis, Hujan..
Ah, ku benci Hujan, walau ku setali dengannya. Tak menyukai keberadaannya, meski penciptaannya berselang detik dengan adaku.
Gerimis, Hujan..
Serupa namun berbeda.
Serupa namun menikam.
Gerimis, Hujan..
Terlahir dari Mendung yang sama: tapi satu terluka, satu melukai.
Di sebuah sudut kamar, Mendung menangis. Dialah yang paling terluka.
April 5th, 2009 at 10:03 pm
Duh, Imun, kamu emang top abis…canggih banget merangkai kata-kata, puitiisss banget. Kata orang, puisi indah akan terlahir sendirinya jika hati yang penulis puisi itu sedang berduka/sedih, bener nggak sih mun…apakah dirimu semelankolis itu hingga bisa canggih cari kata-kata puitis dan perumpamaan2nya dahsyat punya.
Is it possible if someday, when you are growing older and you have found your soul mate, your mellow feeling will gone by itself ? because I was like you before, when I don’t have someone beside me, I was so mellow and have made many poems, but when I grew older and married, everything changed, from dream to reality…kinda..udah ga ada waktu buat mikir kata2 puitis, apalagi mas fadly suka ngejekin aku kalo ngebaca puisi2 ku yang dulu, katanya: “ini dulu waktu kamu patah hati ya dik…kasian deh di tinggalin cowoknya,”ih jadi sebel..